Kamis, 19 November 2009

Jurus Telapak Budha (Hindia-Budhisme)

Tahapan Kung Fu Telapak Budha:
1) Pancaran Perdana Sinar Budha/Kilatan Awal Cahaya Budha
Setelah melewati berbagai cobaan, Sidharta Gautama mampu mencapai Pencerahan di bawah Pohon Bodhi, fisiknya mengeluarkan sinar suci keemasan yang ditakuti oleh para iblis, setan, dan siluman yang sebelumnya menggoda prosesi Sidharta mencapai Pencerahan. Mereka langsung sirna dan menghindari sinar suci ini.
Karena Sidharta adalah seorang Putra Mahkota, maka fisiknya adalah penjelmaan Naga Emas, langsung saja tubuhnya mendapatkan suatu mukjizat dan membentuk sebuah Senjata Prajurit Budha yang pertama, yaitu Pedang Naga Sejati. Senjata ini melambangkan sikap Penerangan Hati.

2) Lentera Budha di Puncak Emas/ Lentera Dupa Budha
Setelah sang Budha mencapai Pencerahan, kawanan penjahat negri tetangga kian merajalela, bahkan Raja Penjahat sudah melewati batas kemanusiaan, dia gemar menyayat daging korbannya dengan golok iblis kristal langit untuk dipersembahkan pada berhala. Sang Budha menyaksikan hal itu, mayat bergelimpangan, darah mengalir bagai anak sungai, hati Budha yang seharusnya tenang bagai air tak beriak mendadak memancarkan amarah yang langsung membasmi kawanan penjahat dan menghancurkan tempat itu.
Raja bandit berhati iblis langsung menyerang Budha dan berhasil menancapkan golok kristalnya ke tubuh suci Budha, api suci dari jantung Budha justru mencuci golok itu dan mengarahkan golok itu untuk menjadi pembasmi iblis dan penyelamat semesta.
Golok iblis berubah menjadi Golok Kristal Sejati, ia menjadi saksi bahwa semua orang bisa menjadi Budha dan juga bisa menjadi Prajurit Budha untuk membasmi kejahatan dan menegakan keadilan, sifat dari Golok ini adalah Penyucian Jiwa dari segala perasaan negatif..

3) Pancaran Telapak Budha/ Budha Menghentak Jagat
Raja India pada masa itu kurang cakap memerintah, tenggelam dalam kesenangan duniawi dan tindakan asusila. Perilakunya menimbulkan amarah langit. Negri itu bagai neraka dunia, kemarau panjang disusul topan badai, kemudian air bah, wabah penyakit yang merajalela dan gempa karena gunung meletus.
Sang Budha yang tidak tega menyaksikan hal tersebut, ia rela mewakili manusia menerima hukuman dari langit. Dewa halilintar bertambah emosional, ia menyerang Budha dengan senjata sakti andalannya, sikap welas asih sang Budha mengubah alur serangan halilintar menggebrak bumi dan merengkahkan tanah yang kemudian justru mengarahkan air bah kembali ke jalur sungai dan mengarahkan ke laut.
Ternyata senjata Halilintar mengerti kebenaran dan keadilan, ia menjadi senjata penghalau bencana yang memilikki sifat welas asih.

4) Budha Menyapa Kelam/Bentakan Halilintar Budha/ Budha Bertanya Pada Rama Bodhisatva
Setelah menyelesaikan pertapaan Sidharta Gautama mencapai kesempurnaan, ia menyebarkan ajaran Budha, pengikutnya semakin bertambah banyak. Hal ini menimbulkan kemarahan, iri, dan kebencian dari banyak aliran Brahmanisme di India, kemudian jutaan pengikut aliran Brahma dikumpulkan oleh ketua aliran Brahma, sang Budha ditantang debat di dekat Pura di desa Ghaya. Budhisme adalah ajaran yang memilikki esensi yang luas, dan dalam, setelah berdebat selama 3 hari 3 malam, justru pengikut Brahma yang mengakui kedalaman ajaran Budha dan keagungan Sidharta Gautama, mereka bersujud dan menyatakan diri berlindung pada sang Budha, sampai-sampai Singa Putih pelindung aliran Brahmanisme meneteskan air mata saat mendengar kotbah Sidharta Gautama, ia tunduk dan percaya sepenuhnya pada Budha. Ketua Brahmanisme merasa dipermalukan, ia menggunakan senjata Pemikat Hati (lonceng Penerang Jiwa) untuk memikat hati para mantan pengikutnya supaya mereka jatuh ke jalan dosa.
Karena ketua Brahmanisme tidak mau bertobat, sang Budha melantunkan doa dalam bahasa Pali, sehingga mantera pemikat hati buyar oleh lantunan doa yang menyejukan hati. Tapi tetap saja ketua Brahmanisme menyerang Budha Gautama dengan senjatanya, demi menyelamatkan sang Budha, singa putih pelindung Brahmana justru menyerang tuannya dan terpaksa menelan Senjata Pemikat Hati. Saat teringat akan jasa dari mantan majikannya, singa putih mengaum sedih, suara auman itu menyiratkan lantunan doa dalam bahasa Pali dan terdengar sampai pelosok daerah.
Atas bimbingan Budha Gautama, singa putih Bertobat dan mencapai pencerahan kemudian rohnya ikut sang Budha ke tanah Sukavati (langit barat/Nirwana). Kemudian jasad Singa Putih menjadi keemasan dan menjelma menjadi senjata Prajurit Budha, yaitu Swara Halilintar, yang melambangkan pertobatan yang tulus.

5) Tenaga Budha dari Surga Barat/ Menyongsong Budha dari Langit Barat
Sang Budha Gautama sadar dirinya akan mencapai penerangan sempurna (Paranibana) menuju ke taman Sukavati di langit barat, sang Budha lalu bertanya-tanya pada diri sendiri, “neraka belum kosong, haruskah aku pergi?” mendadak dari langit yang suram muncul sang Kaisar Langit dari Langit ke Sembilan, dan mendadak muncul pula Roda Emas yang memaku bayangan Budha ke bumi. Bayangan yang terpaku oleh Roda Emas berbentuk Budha sedang merentangkan tangan ke atas dan kedua kaki merapat.
Roda Emas mempunyai karakter sang Budha yang welas asih, ia menjadi Senjata Prajurit Budha yang melambangkan Pembebasan.

6) Tenaga Budha ke Seantero Jagat/ Sinar Budha Menerangi Jagat
Setelah sang Budha mencapai Penerangan Sempurna dan naik ke langit, tidak ada lagi yang ditakuti Siluman dan Iblis yang tadinya sembunyi. Salah satu diantaranya adalah Ashura yang terkuat dan terkejam, kemunculannya selalu membawa bencana bagi manusia, dia paling mendendam pada sang Budha dan bersumpah menghancurkan semua pengikutnya dan menghancurkan ajarannya. Ashura membakar tempat sang Budha Paranibana, namun para murid Budha tidak ada yang beranjak meninggalkan jasad sang guru mereka, mendadak jasad sang Budha Gautama mengeluarkan 7 butir sarira warna warni, dan dengan cahaya suci yang tajam itu menerkam Ashura, cahaya itu bagai sebilah pedang tanpa bentuk yang menusuk ke perut Ashura, dalam keadaan sekarat Ashura masih berusaha melawan, namun sarira itu malah menghisap daarah dan daging Ashura, sehingga terbentuklah Pedang Sarira.
Pedang Sarira membasmi kejahatan dan menjadi saksi Sinar sang Budha Menerangi Jagat. Ia menjadi Senjata Prajurit Budha yang melambangkan Kesadaran.

7) Reinkarnasi Budha/ Budha Turun ke Jagat
Saat Sidharta mencari pencerahan dan ingin menyelamatkan jagat dan manusia dari penderitaan, Ia tinggalkan Yododara (istri) dan Kerajaannya, oleh karena itu kerajaannya mengalami kehancuran, dan memaksa istri dan putra Sidharta bunuh diri, kebetulan saat yang sama pda saat sang Budha mencapai Penerangan Sempurna. Yododora sangat dendam pada Sidharta yang lebih mengutamakan keselamatan seluruh manusia dan alam, ia menghimpun kekuatan di neraka dan bergabung dengan Ashura, kemudian menerobos neraka dan kembali ke dunia dengan bekal sebuah golok yang ditempa dari api dendam di neraka.
Lalu sang Budha melihat penghancuran yang dilakukan mantan istrinya dan Ashura, ia merasa wajib turun dari Suga Barat untuk menyelamatkan semesta dan juga mantan istrinya supaya tidak semakin terjerumus dalam dendam. Ketika Yododara bersikeras menghancurkan sang Budha, sang Budha hanya meneteskan air mata welas asih sehingga niat jahat Ashura hilang dan Yododara kembali menjadi manusia dan diberi pencerahan oleh sang Budha.
Golok Penghancur Jagat yang tadinya memang untuk menghancurkan jagat tetap terlalu kuat karena ditempa oleh api neraka, sehingga menjadi perlambang Kekuatan hati dalam Budha.

8) Kesaktian Budha Tiada Tara/ Kuasa Budha Atas Semesta
Kebenaran dan kejahatan silih berganti, ada kalanya kejahatan yang menguasai jagat raya. Penguasa langit lapisan ke-33 sang Kaisar Langit bersahabat dengan cakrawala yang cerah, ia meramalkan adanya kuasa gelap yang akan merajalela, namun ia tidak menemukan cara untuk mengatasinya. Lalu Kaisar langit menghadap Budha untuk meminta saran dan bantuan, namun sang Budha sekalipun tidak kuasa sesuka hati mengubah dan membolak-balik rotasi langit yang sudah sangat sistemati diatur oleh sang Maha Esa, karena sang Budha merasa kasihan pada Kaisar Lngit maka sang Budha menitipkan jantungnya dan ditanamkan dalam tubuh Kaisar Langit sambil berpesan agar dia tetep meyakini tegaknya Kebenaran dan Keadilan.
Kekhawatiran Kaisar Langit menjadi kenyataan, kejahatan benar-benar merajalela dan kekuasaan para dewa memudar, sampai para dewa juga menjadi korban, istana langit ditembus dan dijarah oleh para iblis dan siluman, sampai-sampai akhirnya Kaisar Langit sendiri dikeroyok oleh ribuan setan, iblis, dan siluman. Sang Budha akhirnya turun membawa 7 senjata Prajurit Budha, tapi ternyata sang Budha juga tidak bisa menghancurkan gabungan dari Siluman, iblis, dan setan yang akan menghancurkan para Budha dan para Dewa.
Sewaktu Kaisar Langit sedang kritis, 7 buah Senjata Prajurit Budha memaku 7 titik nadi Raja Siluman dan karena jasadnya lumpuh, roh Raja siluman itu merasuki jasad Kaisar Langit yang sudah kepayahan, langsung saja Kaisar Langit berubah menjadi boneka siluman langit, namun jantung Budha masih tertanam dalam jasad Kaisar Langit tiba-tiba memancarkan cahaya kuat, ditambah lagi sang Budha melancarkan 7 jurus Telapak Budha Langit, menyebabkan roh Siluman keluar dari raga Kaisar Langit dan Jantung Budha mengikutinya sambil menjelma menjadi Senjata Prajurit Budha yang ke-8, yaitu Senjata Penembus Cakrawala yang langsung menghancurkan roh dan juga jasad raja Siluman.
Sang Budha telah menyelamatkan langit dan bumi dan juga merelakan hatinya menjadi senjata ke-8 yang juga disebut Penyelamat Langit dan Bumi. Untuk mendalami jurus ke-8 ini, seseorang harus sudah menguasai 7 jurus lainnya, sedang jurus ke-9 nyaris mustahil dikuasai oleh manusia karena harus mempunyai esensi dari 8 Senjata Prajurit Budha.

9) Kemurkaan Sejuta Budha/ Para Budha Menghadap Sang Maha Suci
Sutra hati dan senjata Prajurit Budha ke-9 tersimpan di kuil Swara Halilintar, pagoda ini mempunyai 3 sisi, 33 tingkat, dan dijaga 99 biksu India yang berilmu tinggi, bahkan biksu-biksu yang berjaga di puncak pagoda sudah menguasai 6 jurus Telapak Budha.
Di hadapan 8 Rupang (patung Budha) Sakyamuni membentuk Mudra yang melindungi 1 Rupang Budha di tengah aula, yang di dalamnya terdapat Sutra Hati ke-9 Telapak Budha beikut senjata Prajurit Budha yang sama dengan jurusnya, Para Budha Menghadap Sang Maha Suci.
Konon setelah sang Budha mencapai penerangan sempurna, terciptalah jurus ke-9, ia menghimbau manusia yangh tercabik dan berdosa untuk menciptakan kehidupan baru. Semesta tiada bertepi, sementara manusia bagai butiran pasir di pantai, di atas dewa langit sekalipun masih ada dewa lain. Sang Budha maha bijaksanapun tidak berani menerka luasnya Semesta, hanya sang sucilah yang tahu.
Dari sejarah, para dewa mencatat sebuah bencana dahsyat yang datang dari cakrawala, batu meteor jatuh yang menyebabkan perubahan cuaca ekstrem, cahaya biru dan perak yang berasal dari 2 buah meteor yang muncul ke bumi dan merusak seluruh ekosistem bumi. Para dewa sudah berusaha mengembalikan meteor itu ke cakrawala, tapi ternyata para dewa kewalahan hanya oleh cahayanya saja, ternyata meteor itu mempunyai wujud asli sebagai 2 buah hewan siluman raksasa yang berwarna perak memangsa dewa mengobrak-abrik langit kesembilan, sedangkan yang biru memangsa manusia dan menghanguskan bumi. Bencana ini nyaris memusnahkan seluruh isi bumi dan para dewa, sang Budha kembali turun ke semesta dengan dikawal 8 senjata Prajurit Budha, tetapi tetap saja setelah bertarung sehari semalam tubuh Budha mulai hancur melawan hewan raksasa itu.
Melihat pengorbanan sang Budha seluruh isi bumi, manusia, hewan, dan tumbuhan, juga para dewa di langit terharu melihatnya, menjelang musnahnya seluruh kehidupan di bumi dan langit, seluruh mahluk hidup yang ada bertobat secara bersamaan dan inilah inti dari Budha Dharma (ajaran Budha), bahwa semua orang memilikki benih ke-Budha-an. Dari semangat pertobatan itulah sang Budha mendapat kekuatan kasih yang tiada batasnya, tangan kirinya menyalurkan energi golok api dan tangan kanan menyalurkan energi pedang es, siluman biru terbakar dan siluman perak hancur dalam kebekuan. Akhirnya siluman-siluman itu dapat dibasmi, akan tetapi segala mahluk hidup di bumi dan langit sudah mengalami kelelahan secara fisik dan mental ikut hancur secara mengenaskan. Sang Budha bertekad mengembalikan cakrawala, semesta beserta isinya, lubang menganga di cakrawala menyebabkan terjadi pusaran angin kosmis (situasi tanpa atmosfir), sang Budha melemparkan golok api ke Cakrawala untuk menempa langit supaya tertutup awan kembali, lalu dengan energi pedang es, Beliau membekukan jagat raya untuk membersihkan energi negatif dan membuat semua mahluk hidup dapat terlahir kembali.
Lembaran sejarah inilah yang paling buruk, sehingga kedua senjata itu digabungkan menjadi sebuah Senjata Utama Prajurit Budha, yang mewakili sifat dari Kuasa atas Semesta.

10) Berbalik Dari Kebenaran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar